CHAT Via WhatsApp
diposkan pada : 01-01-2021 14:43:28

Setiap hari para pengembang membanjiri media dengan iklan-iklan kawasan perumahan yang mereka jual. Bahkan, iklan rumah kini juga mudah ditemukan di media sosial seperti Facebook dan Instagram.

Tapi, tahukah Anda bahwa masyarakat Indonesia ternyata lebih banyak yang membangun sendiri rumah mereka ketimbang membelinya dari developer? Jumlahnya sangat besar.

Dari total 57 juta rumah tangga Indonesia yang memiliki rumah, 80 persen di antaranya membangun sediri rumah mereka. Hanya lima persen atar sekitar 2,7 juta yang membeli rumah melalui pengembang.

Hal itu tergambar dalam laporan ”Statistik Perumahan dan Permukiman 2019” yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS).

Senior Vice President Head of Securitization & Government Assignments PT Sarana Multigriya Finansial, Sid Kusuma mengatakan, ada dua alasan rumah tangga Indonesia lebih memilih membangun rumah sendiri.

Pertama, mereka memiliki dana cukup untuk membangun rumah. Kedua, keluarga yang sudah memiliki tanah sendiri. “Kalau di Indonesia, tanah diwariskan. Banyak keluarga baru yang sudah memiliki tanah, tinggal membangun rumahnya,” kata Kusuma kepada Lokadata.id, Jumat (6/11).

Data BPS juga mencatat, jumlah rumah tangga yang mendapatkan rumah dari warisan, hibah, dan lain-lain memiliki persentase yang lebih besar, yaitu sembilan persen dibandingkan dengan mereka yang membeli dari pengembang dan bukan pengembang, masing-masing lima persen dan enam persen.

Membangun rumah sendiri memiliki berbagai keuntungan. Misalnya, Anda bisa menentukan desain sesuai dengan keinginan. Mereka bisa memilih lokasi, ukuran, bahkan desain detail sesuai keinginan pemilik rumah.

Berbeda dengan rumah jadi yang tipenya seragam dan membutuhkan biaya pasti, pembangunan rumah bisa menyesuaikan bujet pemiliknya. Apalagi dengan konsep rumah tumbuh, pembangunan masih bisa dilanjutkan di masa yang akan datang.

Dari biaya yang dikeluarkan, membangun rumah sendiri bisa lebih hemat. Ambil contoh kawasan Limo, Depok. Harga tanah di sana berkisar Rp2,5 juta - Rp3,5 juta per meter persegi. Untuk sebidang tanah 75 meter persegi, Anda perlu mengeluarkan dana sekitar Rp187,5 juta hingga Rp262,5 juta.

Taruhlah Anda memerlukan Rp300 juta untuk membangun rumah tahap awal, jumlah uang yang Anda butuhkan totalnya sekitar Rp550 juta. Berapa para pengembang menjual rumah di kawasan itu? Anda harus mengeluarkan uang paling sedikit Rp900 juta.

Jika dilihat lebih rinci, persentase terbesar kepemilikan rumah yang dibangun sendiri didominasi oleh Indonesia bagian timur sebanyak empat dari lima wilayah. Hanya ada satu wilayah dari Indonesia bagian tengah yaitu Sulawesi Tenggara dengan persentase 88 persen.

Sedangkan persentase terendah dengan metode kepemilikan membangun sendiri semuanya berasal dari Pulau Jawa. Misalnya, di DKI Jakarta, persentase yang membangun rumah sendiri hanya 52 persen.

Di wilayah yang sama, persentase mereka yang mendapatkan rumah warisan dari keluarga juga tinggi. Di DKI Jakarta, persentase kelompok ini mencapai 22 persen, tertinggi di Indonesia..

Rendahnya kepemilikan rumah sendiri di DKI Jakarta menurut Kusuma karena harga tanah yang menjulang tinggi. “Harga tanah begitu tingginya, maka harga rumah itu menjadi mahal atau tidak terjangkau,” katanya.

Harga tanah di Tanjung Barat, Jakarta Selatan, misalnya, bisa mencapai Rp11 juta per meter persegi. Hanya mereka yang memiliki dana tunai sangat besar yang bisa membangun rumah sendiri di Ibukota dan daerah-daerah penyangga di sekitarnya.